Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fungsi Kesenian Kuda Lumping: Sebagai Seni Pertujukan Tradisional di Indonesia

Kebudayaan dalam suatu kehidupan berbangsa bernegara merupakan hal yang harus dijaga, dilestarikan, dan dikembangkan. Salah satu kesenian masyarakat Indonesia yang menunjukkan keunikan tradisi Nusantara adalah kesenian Kuda Lumping. Pemaknaan seni Kuda Lumping dapat diartikan sebagai kesenian rakyat dengan mengangkat keunggulan adat setempat.

Hardiarni dalam jurnalnya berjudul "Kesenian Kuda Lumping: Tinjauan Studi Multiperspektif" menyampaikan bahwa pertunjukan dengan atribut Kuda Lumping dapat diungkapkan sebagai suatu perumpamaan prajurit atau kesatria yang menuggang kuda. Penari yang memanfaatkan Kuda Lumping sebagai kendaraannya biasanya cenderung  bergerak seolah-olah bersama dengan hewan kuda di bawah kendalinya. Kuda Lumping dapat dikenakan oleh penari laki-laki maupun perempuan, karena sesungguhnya seorang kesatria dalam mitologi Jawa tidak hanya dari kalangan laki-laki saja. Dalam suatu pertunjukan, Kuda Lumping bahkan merupakan salah satu properti pentas yang wajib ada, keberadaannya seolah menjadi penciri dari kesenian tradisional di benak masyarakat Jawa

Kuswarsantyo dalam tulisannya, Kuda Lumping banyak yang masih dijumpai di pelosok daerah (terutama etnis Jawa), hal ini sering dikaitkan atau dihubungkan dengan kepercayaan animistik. Terlihat dari pertunjukannya bahwa di bagian tertentu akan menghadirkan adegan ndadi atau kerasukan. Dari penutup adegan ini maka akan ada peralihan perhatian penonton yang tertuju pada pawang/dukun. Personil pertunjukan ini bertugas sebagai yang berpengalaman menghadirkan dimensi tak terduga menjadi suatu acara ritual. Keterkaitan upacara ritual dengan komunitas itu menghasilkan pola-pola tradisi yang sudah ada  dan hidup di masyarakat dengan ciri kesederhanaan 

Fungsi-Fungsi Seni Kuda Lumping

Fungsi Ritual:

  1. Pelestarian Tradisi: Jaran Kepang merupakan bagian dari tradisi masyarakat Jawa dan Madura. Pertunjukannya menjadi sarana untuk melestarikan tradisi dan nilai-nilai budaya leluhur.

Fungsi Sosial:

  1. Hiburan: Jaran Kepang merupakan salah satu bentuk hiburan rakyat yang digemari oleh masyarakat. Pertunjukannya yang dinamis dan penuh atraksi menarik banyak penonton. Hal ini dapat di nikmati pada event-event tertentu, dimana penampilan seni kuda lumping atau jaran kepang biasanya untuk memeriahkan acara besar atau acara-acara masyarakat sehingga dapat menghibur para penonton maupun para penanggap kuda lumping.
  2. Sarana Komunikasi: Fungsi kesenian Kuda Lumping sebagai sarana komunikasi yaitu dalam komunikasi sosial kesenian ini juga dapat meningkatkan rasa persaudaraan, memperkuat integrasi baik antar sesama suku Jawa maupun dengan Suku lainnya
  3. Pemersatu Masyarakat: Pertunjukan Jaran Kepang dapat menjadi sarana untuk mempersatukan masyarakat dari berbagai kalangan.

Fungsi Budaya:

  1. Media Edukasi: Jaran Kepang dapat menjadi media edukasi untuk mengenalkan budaya dan tradisi kepada generasi muda.
  2. Promosi Budaya: Pertunjukan Jaran Kepang dapat menjadi sarana untuk mempromosikan budaya Indonesia kepada dunia internasional.
  3. Pengembangan Ekonomi Kreatif: Jaran Kepang dapat menjadi salah satu sumber pendapatan bagi para seniman dan pelaku usaha di sekitarnya
Tentu fungsi itu akan didapatkan apabila berbagai pihak dapat berkerjasama dan saling terhubung untuk mewujudkan fungsi-fungsi tersebut







Posting Komentar untuk "Fungsi Kesenian Kuda Lumping: Sebagai Seni Pertujukan Tradisional di Indonesia"