Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Contoh MAKALAH MTQ Musabaqoh Makalah Ilmiah Al-Qur'an (M2IQ)

Selamat Datang di Blog Ardiyan Fikrianoor, makalah hasil belajar dan masih banyak kekurangan mohon kritikan
PANDANGAN ALQURAN DALAM MENYIKAPI BERITA HOAKS




Disusun Oleh :

Nama : Ardiyan Fikrianoor
Utusan : Sungai Loban
Nomor Peserta : 308

MUSABAQOH TILAWATIL QUR’AN KE-XV TINGKAT KABUPATEN TANAH BUMBU

DESA TELUK KEPAYANG
TAHUN 2018


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah yang telah melimpahkan rahmat, taufik serta hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini. Terimakasih kepada pembimbing yang telah membantu kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada seluruh panitia yang telah membantu kami, sehingga dapat terselesainya makalah ini.
Kami sebagai penulis sudah berusaha sebaik-baiknya untuk menyelesaikan makalah ini, taka da gading yang tak retak, kesempurnaan hanya milik Allah. Tiada usaha yang besar akan berhasil tanpa dimulai dari usaha yang kecil. Sebagai penanggung jawab atas makalah ini, kami mengharapkan kritik dan saran, untuk perbaikan dan penyempurnaan karya tulis ini.
Akhirnya penulis berharap, semoga hasil karya tulis ini memberikan manfaat dan dapat dijadikan wacana untuk memperluas wawasan.



Kusan Hulu, 1 Juli 2018


Penulis






DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI ii
BAB I: PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Rumusan Masalah 2
C. Tujuan Masalah 2
BAB II: LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN 3
A. Faktor Utama Penyebaran Berita Hoaks      3
B. Dampak Dari Penyebaran Berita Hoaks 5
C. Solusi Dalam Penyebaran Berita Hoaks 5
1. Alquran menganjurkan untuk selalu berkata benar 6
2. Bertabayyun dalam menerima berita 8
3. Alquran mengecam keras penyebaran berita hoaks 9
4. Pentingnya tarbiyah Islamiyah 10
BAB III: PENUTUP 12
A. Kesimpulan 12
B. Saran 12

DAFTAR PUSTAKA







BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kemajuan pesat teknologi, informasi dan komunikasi global berdampak pada kebebasan di media sosial secara online.  Kebebasan tersebut sering kali dilakukan untuk menebar fitnah, baik untuk kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok. Hal ini tentu sangat memprihatinkan. Tak sedikit berita-berita bohong (hoaks) digunakan untuk membentuk opini publik yang mengarah terjadinya kehebohan, ketidak pastian informasi dan ketakutan . Ia kemudian menyebar malalui surat kabar, radio, televisi dan internet. Penyebaran hoaks pun dilakukan dengan berbagai alasan, seperti humor, pemasaran, seni, hiburan, aktivisme, pendidikan dan lain sebagainya. Penyebaran hoaks ini tak lepas dari dukungan media massa, baik cetak maupun elektronik. Menurut sebuah survei yang dilakukan pada 7 Februari 2017 lalu, berita hoaks telah tersebar di situs-situs internet sebanyak 34,9 persen, televisi 8,7 persen, media cetak 5 persen, email 3,1 persen dan radio 1,2 persen.  Tingginya penyalahgunaan dalam penggunaan teknologi, informasi dan komunikasi terutama pada media sosial maka sangat perlu adanya pendampingan karakter agar bijak dalam menggunakan teknologi, informasi dan komunikasi sehingga dapat meminimalkan penyebaran berita hoaks. Ini menunjukan bahwa Indonesia tergolong salah satu negara yang mengalami masalah serius dalam penyebaran berita hoaks.
Akhir-akhir ini semakin marak kita melihat adanya berita hoaks seperti video, foto, ujaran kebencian, fitnah dan lain-lain yang beredara dalam masyarakat dan tanpa melakukan koreksi benaran berita masyarakat ikut meneyebarkan berita bohong tersebu terutama yang aktif menggunakan media sosial. Penyebaran berita hoaks sangat berbahaya karena dapat menimbulkan keresahan masyarakat, saling provokasi dan saling curiga. Penggunaan media sosial perlu dilakukan pendampingan karakter melalui revolusi mental terutama revolusi dalam penggunaan teknologi, informasi dan komunikasi, hal ini sesuai dengan revolusi mental yang diberikan oleh Presiden Jokowi pada program nawacita nomor 8 yang berbunyi melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedapankan aspek pendidikan kwarganegaraan, yang menempatkan secara proposional aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotisme dan cinta tanah air, semangat bela negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.
Dalam perspektif Islam penggunaan teknologi, informasi dan komunikasi harus mengacu dengan Alquran yang merupakan pedoman hidup bagi kaum muslim, melalui kajian pandangan Islam tentang berita hoaks ini diharapkan dapat memberikan pemahaman di  kalangan masyarkat Islam tentang bahayanya hoaks dan dapat mengarahkan umat Islam menuju kehidupan lebih baik. Berdadsarkan latar belakang di atas, maka kami menulis karya ilmiah dengan judul pandangan Alquran dalam menyikapi berita hoaks.
B. Rumusan Masalah
1. Apa faktor utama penyebaran berita hoaks ?
2. Apa dampak dari penyebaran berita hoaks ?
3. Apa Solusi dalam mengatasi penyebaran berita hoaks ?
C. Tujuan masalah
1. Untuk mengetahui faktor utama penyebaran berita hoaks
2. Untuk mengetahui dampak dari penyebaran berita hoaks
3. Untuk mengetahui solusi dalam mengetasi penyebaran berita hoaks







BAB II
LANDASAN TEORI DAN PEMBAHASAN

A. Faktor Utama Penyebaran Berita Hoaks

Munculnya berita hoaks ini juga tak lepas dari beberapa alasan. Pertama, turunya pemasukan di media industri yang disebabkan oleh kemudahan membuat website serta lahan untuk konten platform periklanan. Kedua, adanya rasa khawatir akan turunya reputasi media massa, sehingga untuk meningkatnya reputasi tersebut memunculkan berita hoaks yang menghebohkan sebagai ajang meningkatkan reputasi. Ketiga, munculnya media sosial, selain menjadi alat komunikasi modern, juga menjadi ajang pencarian uang. Dengan memunculkan berita yang menghebohkan, daya jual media sosial akan semakin banyak menghasilkan keuntungan. Keempat, terus menurunnya ‘kepercayaan” dari media industri, sehingga memunculkan berita hoaks sebagai alternatif untuk mendapatkan daya tarik yang lebih. Kelima, munculnya faktor politik sebagai ajang untuk menurunkan populitas kelompok lain.
Penyebab konten hoaks tersebar luas di jejaring sosial adalah sebagai berikut :
1. Hanya sebagai humor demi kesenangan belaka. Setiap orang memiliki cara sendiri untuk membuat dirinya senang. Dengan teknologi zaman sekarang orang bisa melakukan hal-hal aneh, langka dan tidak logis. Namun menimbulkan decak kagum yang lucu dan penuh fantasi.
2. Ini hanyalah usaha untuk mencari sensasi di internet dan media sosial. Biasanya untuk merebut perhatian lebih banyak user, pemilik website dengan sengaja memberikan konten lebay sekedar untuk mencari perhatian publik.
3. Hanya untuk ikut-ikutan agar lebih seru. Ini juga merupakan salah satu strategi internet marketing dengan menyuguhkan berita yang lebay maka akan semakin banyak komentar dan like kesana sehingga kelihatan lebih hidup dan lebih ramai.
4. Untuk menyudut pihak tertentu (black campign). Kejadian ini sering terjadi saat sedang pilkada, plgub, pileg atau pilpres. Begitulah manusia saat hawa nafsunya tinggi untuk memiliki jabatan alhasil segala cara akan di tempuhnya alias menghalalkan segala cara.
5. Sengaja menimbulkan keresahan. Saat situasi jelek/rumit mulai tersebar maka muncullah kekhawatiran di dalam masyarakat. Beberapa orang memanfaatkan keresahan ini untuk meraup untung sebesar-besarnya. Istilahnya adalah “memancing di air keruh” dan “memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan”.
6. Niatan untuk mengadu domba. Inilah yang sering terjadi saat ini yaitu ada oknum yang tidak bertanggung jawab melakukan penyebaran hoaks hanya untuk mengadu domba tanpa kepentingan tertentu atau menjatuhkan kedua lawan. Dengan contoh politik yang ada saat ini lebih pada politik adu domba.
Munculnya wadah media sosial seperti whatsAPP dan Instagram juga menjadi sarana masyarakat untuk menerima dan menyebarluaskan berita dan informasi, baik berupa gambar autaupun video. Dalam hitungan detik, berita hoaks dapat menyebar pada masyarakat di seluruh lapisan dunia. Mudahnya menyebarluas berita, terlebih melalui media sosial yang tanpa batas dan tanpa memberikan identitas, sehingga mereka dapat mengungkapkan apa yang mereka inginkan secara bebas. Hal inilah yang menyebabkan adanya isu yang tentu benar, kemudian orang menyebarkannya begitu saja. Ditambah lagi keadaan masyarakat Indonesia saat ini cenderung suka berbagi informasi melalui media sosial seperti whatsAPP, massangger, facebook, Instagram dan sebagainya dengan tanpa menelusuri berita yang benar.



B. Dampak Dari Penyebaran Berita Hoaks
Di era teknologi ini pengguna teknologi, informasi dan komunikasi sangat bermanfaat seperti dimanfaatkan untuk bisnis, dakwah, belajar, silaturrahmi dan lain sebagainaya. Semakin luasnya layanan internet juga berpengaruh pada hal-hal negatif seperti kejahatan kriminal dan sosial diantaranya penyebaran hoaks terutama para pengguna media sosial, beberapa dampak beredarnya berita hoaks yaitu sebagai berikut :
1. Merugikan masyarakat, karena berita hoaks berisi kebohongan dan fitnah.
2. Memecah belah publik, baik mengatasnamakan kepentingan politik maupun organisasi agama tertentu.
3. Memengaruhi opini publik, hoaks menjadi provokator untuk memundurkan masyarakat.
4. Berita-berita hoaks sengaja dibuat untuk mendiskreditkan salah satu pihak, sehingga bisa mengakibatkan adu domba terhadap sesama umat Islam. Sengaja ditujukan untuk menghebohkan masyarakat, sehingga menciptakan ketakutan terhadap masyarakat.
Dengan berbagai dampak negatif yang ditimbulkan akibat beredarnya berita hoaks tersebut, maka masyarakat awam yang akan sangat dirugikan. Upaya untuk meminimalkan tentu sangat diharapkan agar masyarakat kembali sadar dan berhati-hati.



C. Solusi Dalam Penyebaran Berita Hoaks
Melihat bahayanya dampak negatif penggunaan teknologi, informasi dan komunikasi terutama pada penggunaan media sosial maka peranan pendidikan dalam keluarga sangat diperlukan untuk memberikan pendampingan pengetahuan, keterampilan dan karakter. Peran orang tua sangat penting dalam hal ini,  pendampingan tersebut dapat berupa pembatasan dalam mengunakan teknologi, informasi dan komunikasi terutama pada penggunaan media sosial dan memberikan pendidikan baik secara langsung ataupun ke lembaga pendidikan agama dan umum.
Menanggapi hal tersebut, Alquran sebagai pedoman umat Islam perlu dijadikan rujukan bertingkah laku dalam penggunaan teknologi, informasi dan komunikasi karena kandungan Alquran telah mengatur berbagai hal, terlebih dalam mengurangi peredaran berita hoaks yang dapat meresahkan masyarakat. Beberapa anjuran Alquran terkait upaya meminimalkan peredaran hoaks tersebut, sebagai berikut:
1. Alquran menganjurkan untuk selalu berkata benar
Dalam berdialog, seseorang harus memperhatikan etika dan aturan main yang berlaku. Tidak boleh asal-asalan, ada strategi dan metode yang harus dilakukan. Dengan strategi yang baik, dialog akan mampu mengantarkan seseorang pada titik kebersamaan dan kesepahaman yang indah.
Alquran telah memberi penjelasan pada umat manusia agar selalu berkata benar, karena dengan menyampaikan sebuah berita yang benar akan menjaga kemurnian ajaran Islam, serta akan melahirkan keharmonisan dalam pergaulan.
Sebagai mana dijelaskan dalam Alquran tentang keharusan untuk menyampaikan kebenaran, hal ini sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Ahzab 33: 70-71









Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rosul-Nya, maka sungguh, dia menang dengan kemenangan yang agung. (QS. Al-Ahzab 33: 70-71).


Maksud dari ayat di atas adalah Allah memberikan peringatan kepada umat manusia, takutlah kalian untuk berbuat maksiat (menyampaikan berita dengan dusta), maka Allah akan berikan hukuman. Selanjutnya ayat ini juga merupakan seruan untuk umat Islam agar dalam menyampaikan senuah berita seorang mukmin harus menyampaikan berita yang sesuai dengan kebenarannya, tidak menyimpang, sehingga perkataan tersebut tidak menimbulkan keburukan, dengan berkata benar, maka Allah akan memberi petunjuk kebenaran.
Berkata benar atau jujur sangat dianjurkan dalam agama Islam, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rosulullah SAW, Al-Faqih berkata: Muhammad bin Fadl menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far mencerintakan kepada kami, Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy dari Syaqiq bin Salamah dari Abdullah bin Mas’ud ra., bahwa Rosulullah bersabda:












Artinya: Hendaklah kamu berkata jujur, karena kejujuran itu membimbing kepada kebaikan dan kebaikan itu membimbing kesurga. Seseorang yang selalu benar dan membiasankan kebenaran itu, hingga ia dicatat sebagai orang yang benar. Jauhilah olehmu dusta, karena dusta membimbing kepada kejahatan dan kejahatan membimbing kedalam neraka. Seseorang yang selalu dusta dan membiasakan dusta, hingga ia dicatat di sisi Allag sebagai pendusta.
Bahwa jujur itu membawa kepada kebaikan, orang yang menyiarkan kebaikan maka akan dimasukan ke surga Allah dan siapa yang melakukan kejujuran dalam kebiasaannya maka Allah akan mencatat ia sebagai orang yang jujur. Selanjutnya kedustaan, siapa yang melakukan kedustaan akan dimasukan ke neraka, karena kedustaan membawa kepada keburukan atau hal yang tidak baik.
2. Bertabayyun dalam menerima berita
Alquran memberi pedoman dan tuntunan kepada manusia dalam berbagai aspek, misal politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Salah satu tuntunan yang dibahas oleh Alquran adalah selektif dalam menerima dan menyampaikan informasi. Atmosfer perubahan yang didorong oleh kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang terus berkembang, memaksa setiap manusia untuk menggunakan sebagai media untuk mendapatkan berbagai informasi. Oleh karena itu, masyarakat harus cermat dan selektif serta kritis dalam menerima setiap informasi. Dalam Alquran selektif dan kritis tersebut diistilahkan dengan tabayyun.
Tuntunan umat Islam agar selalu klarifikasi dalam setiap menerima berita sudah dijelaskan dalam Alquran. Islam mewajibkan umat Islam untuk selalu bertabayyun.









Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu  menyesali perbuatan itu. (QS. Al-Hujurat 49: 6)
Ayat tersebut merupakan anjuran kepada umat Islam yang beriman, agar berhati-hati dalam menerima suatu berita yang datangnya dari orang fasik. Umat Islam dituntut agar selalu berhati-hati, baik dalam menerima berita atau menjalani kehidupan sehari-hari. Karenanya, umat Islam dianjurkan untuk mengoreksi datangnya berita dari orang-orang fasik (yang biasa berbuat kerusakan), dan berhati-hati dalam menerima berita. Hal ini dilakukan sebagai sebuah upaya mengantisipasi datangnya berita hoaks yang menyebabkan pertikaian, permusuhan dan penyesalan. Alquran berpesan apabila mendapatkan informasi atau berita hendaknya terlebih dahulu  melakukan tabayyun dengan memeriksa secara teliti berita tersebut.
3. Alquran mengecam keras penyebaran berita hoaks
Alquran sangat mengecam keras bagi orang yang ikut serta dalam penyebaran berita hoaks, baik dengan sengaja atau tidak sengaja. Hal ini ditegaskan dalam QS. An-Nur 24: 14-15










Artinya: Dan seandainya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, disebabkan oleh pembicaraan kamu tentang hal itu(berita bohong itu). (Ingatlah) ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakana dengan mulutmu apa yang kamu tidak ketahui sedikitpun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itusoal besar. (QS. An-Nur 24: 14-15).

Dari penjelasan ayat ini jelas sudah Allah mengancam betul-betul bagi orang yang terlibat dalam menyampaikan berita hoaks, baik orang yang sudah mengetahui berita-berita tersebut maupun yang belum mengetahuinya, berita ini juga disamakan dengan orang-orang zaman sekarang yang men-share berita-berita heboh yang belum tahu kebenarannya. Apabila seseorang ikut andil dalam penyebaran berita itu, maka ia patut mendapat ancaman azab dari Allah.
4. Pentingnya tarbiyah Islamiyah
Tarbiyah Islamiyah atau pendidikan yang islami merupakan senjata yang paling utama dalam mambangun generasi penerus yang kuat imannya. Rumah, jalan, keluarga, sekolah dan lingkungan menjadi bagian penting dalam menjalankan proses tarbiyah ini. Rumah dan keluarga menjadi sentral pertama dan utama dalam menjalankan tarbiyah Islamiyah, karena sebagian besar waktu anak dihabiskan oleh keluarga, terutama ibu. Allah SWT berfirman dalam surah At-Tahrim ayat 6 :



Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…
Pepatah arab mengatakan “           “
Artinya: “Ibu sekolah utama bila engkau mempersiapkannya maka engkau telah mempersiapkan generasi yang terbaik”.



Dari tangan seorang ibu akan menghasilkan warna pada seorang anak. Sekolah pertama ini yang akan menentukan nasib generasi masa depan. Jika seorang ibu perduli dengan pendidikan seorang anak terkhusus pada pendidikan agama maka bangsa ini akan memiliki masa depan yang cerah. Namun sebaliknya apabila ibu tidak perduli terhadap pendidikan anak atau hanya mementingkan pendidikan dunia saja dan mengesampingkan pendidikan agama maka generasi masa depan akan suram.























BAB III
KESIMPULAN


A. KESIMPULAN

Setelah dikaji dan dibahas dapat disimpulakan bahwasannya :
1. Batasan di dalam Al-qur’an dalam mengatur komuniaksi (bersosial media) adalah :
a. Jujur, dalam berkomunikasi kita diwajibkan berprilaku jujur karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan.
b. Tidak boleh ghibah, perilaku ghibah ini dicegah karena dapat menimbulkan suatu perpecahan. Namun ghibah juga diperbolehkan karena hukum syar’i.
c. Hindari adu domba, sebab adu domba merupakan perbuatan yang dicela karena tujuan adu domba itu ialah menyebar fitnah agar suatu kelompok yang satu dan yang lain saling membenci, menimbulkan pertikaian dan permusuhan. Maka dengan itu perbuatan adu domba ini hukumnya wajib dihindari.
d. Jangan memfitnah, karena fitnah adalah suatu kebohongan besar dan sangat merugikan. Islam memberikan solusi agar kita dapat menghindari diri dari memfitnah, diantanya jangan mencari-cari kesahalan orang lain, jangan terlalui mencurigai orang lain, dan merendahkan orang lain.



2. Sikap muslim dalam informasi hoax adalah sebagai berikut :
a. Harus adanya penjagaan dari negara sebagai pelayan rakyat, kontrol dari masyarakat dan ketakwaan individu terhadap hukum.
b. Melakukan pembinaan dalam mengelola sosial media, melalui sistem pendidikan yang dilakukan oleh negara akan mendidik individu masyarakat dalam memilah berita atau informasi berdasarkan standar yang jelas dan pasti.
c. Meneliti berita sebelum disebar.
d. Mencegah pelaku penyebar berita hoax dengan etika yang sopan dan santun.




B. SARAN-SARAN

1. Saran untuk keluarga, untuk membentuk akhlak yang baik tentunya berawal dari sebuah keluarga, karena seseorang diasuh dari kecil hingga besar di dalam suatu keluarga. Maka sebaiknya keluarga memberikan pendidikan yang baik dan dalam syari’at Islam. Dengan pemantauan dari keluarga yang baik maka penyebaran-penyebaran berita yang tidak baik tidak akan terjadi karena seseorang sudah terdidik dan berpendidikan.
2. Saran untuk pengguna media sosial, sebaiknya dalam menggunakan media sosial hendaklah mengikuti arahan-arahan yang telah diberikan oleh pemerintah, manfaatkan media sosial yang sudah canggih dengan sebaik-baiknya dan meneliti informasi yang sudah tersebar di dinding media.

























DAFTAR PUSTAKA
As Samarqandi, Abu Laits, Tanbihul Ghofilin, diterjemahkan oleh Muslich Shabir, dengan judul Tanbihul Ghofilin; Peringatan Bagi Orang-Orang Yang Lupa, (Semarang; Karya Toha Putra Semarang, 2005), h.247
Budiman, Ahmad “Berita Bohong (Hoaks) Di Media Sosial dan Pembentukan Opini Publik, “Majalah Informasi Singkat Pemerintahan Dalam Negri Isu Aktual, IX, no. 01(Januari, 2017), h.17
Librayanti, Andina, Survei: Media Sosial Jadi Sumber Utama Penyebaran hoaks, http://tekno.liputan6.com/read/2854/13/survei-mediasosial-jadi-sumber-utama-penyebaran-hoaks.
Maulana, Luthfi, Kitab Suci Dan Hoaks: Pandangan Alquran Dalam Menyikapi Berita Hoaks, Jurnal Ilmiah Dan Agama Budaya 2, 2 (Online, 2017, (https://journal.uinsgd.ac.id, diakses pada 25 Juni 2018)
Ravi Marwan, Muhammad dan Ahyad, Analisis Penyebaran Berita Hoaks, Ravvi.staff.gunadarma.ac.id
Saputra, Mundzier, Islamic Multikultural Education, (Jakarta Selatan: Al-Ghazali Center, 2008), h.61
Tasandra, Nabila, Penyebaran Hoaks Dan Budaya Berbagi, https://nasional.kompas.com









PERAN KELUARGA DALAM MEMBENDUNG KENAKALAN REMAJA

MAKALAH ILMIAH AL-QUR’AN





Disusun Oleh:
Nama  : ARDIYAN FIKRIANOOR
Nomor Peserta  : 336




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat, taufik dan hidayah-NYA sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penyelesaian makalah ini. Terimakasih kepada pembimbing yang telah membimbing kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Terimakasih kami ucapkan kepada bapak panitia yang telah membantu kami, sehingga dapat terselesai dengan baik.
Kami selaku penulis sudah berusaha sebaik-baiknya untuk menyelesaikan makalah ini, Tak ada gading yang tak retak, kesempurnaan hanya milik Allah. Tiada usaha yang besar akan berhasil tanpa dimulai dari usaha yang kecil. Sebagai penanggungjawab atas karya tulis ini, kami mengharapkan kritik dan saran untuk perbaikan dan penyempurnaan karya tulis ini.
Akhirnya penulis berharap, semoga karya tulis ini memberikan manfaat dan dijadikan sebagai wacana untuk memperluas wawasan.


                                                                      Sungai Loban, 31 juli 2017



                                                                 penulis
                                    

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL………………………………………………………………...
KATA PENGANTAR………………………………………………………….……1
HALAMAN DAFTAR ISI…………………………………………………….…….2
BAB I : PENDAHULUAN………………………………………………....….…….3
A. Latar Belakang Masalah………………………………………………3
B. Rumusan Masalah…………………………………………………….4
C. Tujuan Pembahsan……………………………………………………4
D. Sistematika……………………………………………………………4
BAB II : KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN………………………………….6
A. Peran Dan Fungsi Keluarga Dakam Mendidik Anak…………………6
1. Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak……………………..6
2. Fungsi Pendidikan Anak Dalam Keluarga……………………7
B. Kenakalan Remaja, Faktor Dan Solusi Pencegahannya………………………………………………………………8
1. Kenakalan Remaja………………………...………………….8
2. Faktor Yang Memengaruhi……………………………..……10
3. Solusi Perspektif Al-Qur’an…………………………………11
C. Pentingnya Peran Keluarga Dalam Mencegah Kenakalan Remaja……………………………………………………………….11
BAB III : PENUTUP………………………………………………………………..14
A. Kesimpulan…………………………………………………………..14
B. Saran-Saran…………………………………………………………..14
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………15
LAMPIRAN…………………………………………………………………………..
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
 Anak adalah anugrah dan amanah dari Allah SWT. Yang harus dipertanggungjawabkan oleh setiap orangtua dari berbagai aspek kehidupan. Diantaranya bertanggungjawab dari aspek pendidikan, kesehatan, kasih sayang, perlindungan yang baik, dan berbagai aspek lainnya.
Dalam Islam orangtua bertanggungjawab untuk memberikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya, yaitu keimanan kepada Allah. Fitrah ini merupakan kerangka dasar operasional dari proses penciptaan manusia. Di dalamnya terkandung kekuatan potensial untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal dan mengarahkan untuk mencapai tujuan penciptaannya.
Pergaulan bebas adalah salah satu kebutuhan hidup dari makhluk manusia sebab manusia adalah makhluk sosial yang dalam kesehariannya membutuhkan orang lain dan hubungan antar manusia dibina melalui pergaulan. Bebas diidentikan sebagai bentuk dari pergaulan luar batas atau juga biasa disebut dengan pergaulan liar.
Nilai budaya dan apapun yang diperoleh seorang anak dari keluarga akan menjadi dasar dan dikembangkan dikehidupan selanjutnya. Perilaku orangtua sangat berpengaruh terhadap perkembangan dan pertumbuhan anaknya. Sehingga orangtua harusnya selalu selektif dalam memilih dan mengembangkan sikap pro aktif dalam perkembangan anaknya. Dalam pola pro aktif ini orangtua dituntut untuk berfikir dalam melakukan tindakan-tindakan yang dapat membantu perkembangan anaknya. 
Jadi jelaslah sudah bahwa orangtua tidak bisa menghindari diri sebagai pemikul utama dan bertanggungjawab terhadapm pendidikan anaknya. Ini adalah tugas keluarga, lembaga pra sekolah dan sekolah hanya faktor pembantu. Dari pemaparan diatas penulis akan mengambil judul “Peran Keluarga Dalam Membendung Kenakalan Remaja.”

B. Rumusan Masalah
1. Apa saja peran dan fungsi keluarga terhadap anak?
2. Apa saja kenakalan remaja, faktor dan bagaimana solusi pencegahannya?
3. Seberapa penting peran orangtua dalam mencegah kenakalan remaja?

C. Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui peran dan fungsi keluarga dalam pendidikan anak
2. Untuk mengetahui kenakalan remaja, faktor dan solusi pencegahannya
3. Untuk mengetahui pentingnya peran orangtua dalam mencegah kenakalan remaja

D. Sistematika 
Untuk mempermudah pembaca guna memahami makalah ini maka disusun dengan sistematika sebagai berikut;
1. Bagian pembuka
a. Sampul 
b. Kata pengantar
c. Daftar ini
2. Tubuh tulisan
a. Bab I Pendahuluan
1) Latar belakang menggambarkan alasan mengapa makalah ini perlu ditulis.
2) Rumusan masalah menerangkan tentang apa-apa yang hendak dibahas dalam makalah ini.
3) Tujuan penulisan makalah menjelaskan lebih luas apa-apa yang tertulis dalam rumusan.
4) Sistematika masalah unutk mempermudah pembaca guna memahami makalah ini.
b. Bab II pembahasan materi
c. Bab III kesimpulan dan saran
Dalam bab ini membahas kesimpulan dan saran.

















BAB II
KAJIAN TEORI DAN PEMBAHASAN


A. Peran Dan Fungsi Keluarga Dalam Pendidikan Anak
1. Peran Keluarga Dalam Pendidikan Anak
Pendidikan anak dalam keluarga menurut Islam, dalam bahasa Arab, istilah pendidikan secara leksikal berarti “tarbiyah” dengan pengertian mengembangkan, memelihara, mengasuh atau membesarkan. 
Keluarga adalah lembaga pendidikan pertama dan utama dalam masyarakat, karena dalam keluarga manusia dilahirkan, berkembang dan dewasa. Bentuk dan isi serta cara-cara pendidikan dalam keluarga, akan selalu memengaruhi tumbuh dan berkembangnya watak, budi pekerti dan kepribadian tiap-tiap manusia. Pendidiakan yang diterima dalam keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak sebagai dasar untuk mengikuti pendidikan selanjutnya di sekolah maupun pesantren. Banyak metode yang bisa digunakan orangtua dalam mendidik anakanya. Salah satunya dengan meniru sifat-sifat mulia Rosullullah SAW. Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an, bahwa telah ada suri tauladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat dari Allah. Suri Tauladan atau sifat-sifat mulia Rosullulah  Muhammad SAW.  Seperti akhlakul karimnya yang kita ketahui yaitu siddiq, tabligh, amanahm dan fatanah.(kumpulan firman pilihan dalam Al-qur’an,2009).
Tugas dan tanggungjawab orangtua dalam keluarga dalam pendidikan anaknya lebih bersifat pembentukan watak dan budi pekerti, latihan ketrampilan dan pendidikan kesusilaan, menjaga kesehatan dan ketentraman rumah tangga, dan sejenisnya (ilmu pendidikan praktis, 2008 : 81). Dalam bentuk pengajaran dan budi pekerti yang baik, dari orangtua itu sudah sesuai dengan yang telah disabdakan oleh Rosullullah yang artinya:”Tiada satu pemberian pun dari orangtua terhadap anaknya yang lebih utama dari (mengajarkan) budi pekerti yang baik.” Dalam riwayat lain, “seseorang yang mendidik budi pekerti anaknya adalah lebih baik dari sekedar memberikan sedekah sayu sha.” (H.R. at-Turmuzi dan al-Hakim).”
Bimbingan budi pekerti dan pendidikan yang baik juga merupakan pemuliaan orangtua kepada anaknya.

2. Fungsi Pendidikan Anak Dalam Keluarga
Fungsi dari pendidikan anak dalam keluarga adalah akan lebih memperkuat tali cinta dan kasih diantara orangtua dengan anak. Berlangsungnya peran pendidikan anak dalam sebuah keluarga, akan membuat anak dapat belajar bagaimana sesuatu itu dapat dilihat, diraba, dicium dan dirasa. Pendidikan dan pengajaran akhlak bagi setiap individu agar mencapai keteladanan yang sempurna adalah jalan mulia dalam rangka mengelola potensi-potensi kebaikan yang ada didalam diri. Potensi-potensi kebaikan itu perlu senantiasa dikembangkan dan dikelola dengan baik dalam sebuah kehidupan, sehingga setiap orang bias menjadi insan tyang bermanfaat bagi dirinya ataupan lingkungannya.(wasiat rosul untuk orangtua dalam mendidik anak, 2002 : 176).
Dengan memberikan pendidiakan fisik pada anak orangtua akan mengembangkan jasmaninya dengan kekuatan yang diridhoi Allah. Demikian halnya dengan fasilitas pendidikan intelektual atau tarbiyah aqliyah, maka peran orangtua akan menyiapkan anak dalam mewujudkan dan mengembangkan kecerdasannya. Adapun hal lain yang tak kalah penting adalah pendidikan emosi dan sikap sosial atau tarbiyah rohaniyah dan tarbiyah adabiyah, dimana orangtua membuka kesempatan pada anak untuk mengembangkan sikap yang benar melalui teori dan praktek, akan menghasilkan anak yang memiliki pengetahuan agama yang fungsional dalam melaksanakan tugasnya sebagai khalifah dibumi.(http://duniaremaja)

B. Kenakalan Remaja, Faktor Dan Solusi Pencegahannya
1. Kenakalan Remaja
Remaja adalah usia yang dipengaruhi dengan semangat yang tinggi tetapi adakalanya semangat tersebut mengarah kesesuatu yang bersifat negatif sehingga sering disebut dengan kenakalan remaja. Para ahli pendidikan sependapat remaja yaitu mereka yang telah berumur 13-18 tahun. Masa remaja awal merupakan masa trasisi atau biasa disebut dengan usia belasan yang tidak menyenangkan, dimana terjadi perubahan dalam dirinya baik secara fisik, psikis, maupun secara sosial (http://duniaremaja). Pada masa trasisi tersebut ditandai dengan kecenderungan melakukan hal yang menyimpang. Dalam kondisi menyimpang tersebut menjadi perilaku yang menggangu. 
Devinisi kenakalan remaja juga dikemukakan oleh beberapa ahli yaitu:
a. Kartono, ilmuan sosiologi
“kenakalan remaja merupakan gejala  petologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabdian sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.” Santrock
“Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.” ( http://duniaremaja)

Dari definisi kenakalan remaja di atas dapat disimpulkan bahwasannaya kenakalan remaja adalah kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang terpengaruh oleh gejala-gejala menyimpang sehingga sehingga perilaku itu tidak dapat diterima oleh sosial. Akibatnya. Mereka melakukan perilaku yang menyimpang.
a. Contoh konkrit
Berikut ini adalah adalah beberapa contoh kenakalan-kenakalan  remaja yang sering timbul dimasyakat:
1) Judi
2) Kebut-kebutan dijalan
3) Geng motor
4) Melawan orangtua
5) Perilaku seksual pranikah
6) Malas ibadah
7) Menyalahgunakan narkotika
8) Nonton video atau majalah porno
Masih banyak lagi contoh-contoh kongrit yang sering kita jumpai dilingkunga sekitar. Seperti halnya penyalahgunaan narkoba, padahal sudah jelas penyalahgunaan narkoba ini dapat menimbulkan gangguan kesehatan jasmani, mental, dan sosial. Dan juga Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an Q.S. Al-Maidah : 90, 



Artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuata keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”
Jelaslah perbuatan-perbuatan yang telah disebutkan diatas adalah perbuatan yang dilarang oleh Allah dan termasuk perbuatan setan.
2. Faktor Yang Memengaruhi
Kenakalan remaja dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku yang menyimpang. Perilaku menyimpang itu dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat membahayakan tegaknya sistem sosial. Ada banyak faktor yang menyebabkan faktor itu diantaranya yaitu faktor internal (faktor dalam rumah) dan eksternal ( faktor luar rumah).
a. Faktor internal (keluarga)
Rosullullah bersabda, dalam kitab mukhtarul hadist, 2005:130


Artinya:”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka bapaknya lah yang menjadikan Yahudi, atau Nasrani atau Majusi(H.R Muslim dari Aswad bin sari’)
Orangtua adalah yang paling bertanggungjawab dengan akhlak dan prilaku anaknya. Yahudi atau Nasrani anaknya tergantung orangtuanya. Bina’an orangtua adalah faktor terpenting dalam membentuk dan memperbaiki generasi yang baik. Keluarga yang tidak tentram dapat berdampak negative bagi anaknya. Sebagai contoh: pertengkaran ayah dan ibu yang terjadi dalam keluarga, secara otomatis akan menjadi pelajaran yang keras bagi anaknya.
b. Faktor eksternal
1) Lingkungan masyarakat
Kondisi lingkungan masyarakat juga berpengaruh dalam membentuk moral generasi muda. Pertumbuhan remaja tidak akan jauh dari warna lingkungan sekitar ia hidup dan berkembang.
2) Teman pergaulan
Perilaku seseorang tidak akan jauh dari teman pergaulannya. Remaja itu lebih cenderung hidup berkelompok (geng) dan ingin selalu diakui identitas gengnya dimata orang lain. Tidak sedikit seseorang yang belum mengetahui apa-apa dengan cepat ia terpengaruh temannya.
3. Solusi Perspektif Islam
Telah disampaikan terciptanya manusia di muka bumi ini adalah khalifah bagi umat. Realitanya banyak remaja yang kehilangan jati dirinya. Sehingga berdampak sangat fatal, mulai dari integritas moral sampai dengan tindakan kriminalitas yang mengkhawatirkan. Kegagalan mencapai identitas dan moral bisa dicegah dan diawasi dengan prinsip keteladanan.  Remaja harus banyak mendapatkan figur-figur dewasa yang bisa dijadikan suri tauladan yang baik. Tentunya tidak memiliki penyimpanagan moral. Rosullullah bersabda:”Innama buistu li utammima makarimalakhlak”, sesungguhnya Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak umat.” Rosullullah merupakan figur terhebat dalam Islam dan dapat dijadikan suri tauladan yang baik bagi kita semua.

C. Pentingnya Peranan Keluarga Dalam Mencegah Kenakalan Remaja
Al-qur’an tidak secara langsung mengemukakan pendapat orangtua terhadap pendidikan. namun perintah tersebut terserat dalam beberapa ayat yang mengisyaratkan tentang hal itu. Dalam makalah ini, penulis hanya mengambil beberapa sempel saja, karena tidak mungkin penulis menjelaskan secara detail semua ayat tarbiyah. Berikut ini merupakan ayat yang menunjukan tanggungjawab orangtua terhadap pendidikan:
Q.S.at-Tahrim/66:6

Artinya:”wahay orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang keras, dan keras, yang tidak duraka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(Q.S.at-Tahrim/66;6). 
Apabila kita perhatikan, terjemah DEPAG  di atas  nampaknya tidak menjelaskan secara eksplisit atau langsung tentang tanggungjawab orangtua terhadap pendidikan anaknya, ayat tersebut dapat dipahami dengan mudah. Maka dapat dikatakan terjemah DEPAG belum dapat dilihat langsung tentang tanggungjawab orangtua terhadap pendidikan anak. Kecuali bagi orang yang berfikir dan meneliti Al-qur’an.
Q.S.at-Tahrim/66:6
Qurtubi



Maksud tafsir diatas jagalah dirimu dan keluargamu dari neraka. Jagalah dirimu dan perintahkanlah keluargamu untuk berdzikir dan berdo’a.
Peran keluarga sangatlah penting dalam membentuk kepribadian seorang anak. Orangtualah yag paling utama.
Jalalain 


Maksudnya adalah jagalah dirimu dan keluargamu dari neraka dengan senantiasa melakukan ketaatan kepada Allah.
Dari berbagai tafsir di atas terdapat beberapa tafsir yang ketika menafsiri ayat yang penulis pilih ada yang secara langsung menunjukan tentang kewajiban orangtua terhadap pendidikan anak, namun ada juga yang tidak secara langsung.  Jadi keluarga juga punya peran sangat besar dalam membentuk kepribadian anaknya, untuk memulai perbaikan mulailah dari diri sendiri kemudian keluarga. 














BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pemaparan diatas, dapat ditarik kesimpulan yaitu:
1. Fungsi dan peran orangtua dalam melakukan tugas, turut menentukan pembentukan dan perkembangan generasi mendatang agar menjadi generasi yang sholih dan sholihah.
2. Kenakalan remaja yang terjadi dimasyarakat sangat banyak itu bisa dicegah dan diatasi dengan prinsip ketauladanan, dengan meniru akhlak mulia rosullullah SAW.  Kenakalan remaja sekarang ini disebabkan oleh dua faktor yaitu faktor internal (keluarga) dan faktor eksternal (lingkungan masyarakat dan teman pergaulan).
3. Peran orangtua dalam mencegah kenakalan remaja sangatlah penting.

B. Saran-Saran
1. Hendaklah orangtua menyadari bahwasanya orangtua telah dipilih oleh Allah untuk memegang amanah yang besar berupa anak agar amanah itu tidak disia-siakan.
2. Hendaklah setiap remaja menjaga dirinya dengan menanamkan nilai-nilai moral, pendidikan dan nilai keagamaan.
3. Hendaknya semua pihak saling membantu dan mengingatkan betapa penting peran orangtua terhadap pendidiakn anak dalam membendung kenakalan remaja. Hubungan semua pihak dapat diharapkan mengatasi dari dampak buruk dari seorang anak.



DAFTAR PUSTAKA


Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Ansori Al-Qurtubi, tt, Al-jamik, Al-liahkami Al-Qur’an
Drs.Muh. Ilyas Ismail, M.Pd,M.Si, 2008, Ilmu Pendidikan Praktis, Jakarta, Ganeca Exact 
http://duniaremaja gg.blogspot.com/2010/10/etika-pergaulan-remaja-dalam-pandangan
Jalaludin Muhammad bin ahmad al-mahali dan jalaluddin Abdurrohim bin Abu bakar Assyuyuti, tt, tafsir al-qur’aniladzim
Kementriam Agama RI, 2012, Al-qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, PT.Sinergi Pustaka Indonesia
Syayit Ahmad Al-Hasyimi Al-Misri, 2005, Mukhtarul Hadist
Ust. Tavip Hamdani,ST, 2009, Kumpulan Firman Pilihan Dalam Al-Qur’an, Terbit Terang Surabaya
‘Isham Yusuf, 2002, Wasiat Rosul Untuk Orangtua Dalam Mendidik Anak, PT Grafindo Media Pratama
makalah dari pemula, baru prtama kali

3 komentar untuk "Contoh MAKALAH MTQ Musabaqoh Makalah Ilmiah Al-Qur'an (M2IQ)"

  1. Assalamualaikum,Bang apa Musabaqah KTI Alquran itu bisa tidak menggunakan daftar isi yah??

    BalasHapus
  2. asalamualaikum bang saya mau nanya..
    kalau ikut ktiq sumbernya bisa dari internet ga ?
    atau ga boleh sama sekali?

    BalasHapus