Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Imposter Syndrome Atau Sindrom Penipu (Merasa Tidak Pantas Meraih Sukses)-Bukan Imposter Among Us

Seorang penulis Nell Gaiman diundang disebuah acara, pada ruangan tersebut berisikan orang-orang hebat, ada seniman, ilmuan, penulis. Gaimen manyadari bahwa orang-orang hebat tersebut akan menyadari bahwasannya Gaimen tidak pantas diantara mereka. 

Di samping Gaimen berdiri seorang laki-laki tua, dan laki-laki tua berkata sambil menunjuk kerumunan orang-orang hebat, “saya melihat orang-orang hebat ini, saya berfikir sedang apa aku di sini?semua orang-orang itu sudah menorehkan prestasi-prestasi luar biasa. Sementara saya berada diluar angkasa hanya menjalankan tugas”. Mendengar kalimat itu Gaimen berkata pada laki-laki tua “Iya, tapi anda adalah manusia pertama di bulan”.

Saya rasa itu punya arti! Neil Armstrong dan Nell Gaimen adalah salah dua dari orang-orang yang mengalami Imposter Syndrome atau sindrom penipu. 

Bahkan Albert Eintein ia juga mendeskripsikan dirinya sebagai involuntary swindler atau penipu tidak disengaja, yang karyanya tidak layak untuk mendapatkan perhatian sebanyak yang ia terima. 

Imposter syndrome adalah kondisi psikologi di mana seseorang merasa tidak pantas meraih kesuksesan yang telah di capainya. Orang dengan sindrom ini justru merasa was-was, seolah suatu hari orang-orang akan tahu bahwa dirinya hanyalah seorang penipu yang tidak berhak mendapatkan segala prestasi dan keberhasilan. Selain itu, kodisi ini terkadang disertai dengan gejala-gejala cemas atau depresi. 

Setiap orang pernah mengalami sindrom penipu, setidaknya sekali atau dua kali dalam hidup. Jika anda mempunyai perasaan anda tidak pantas mendapatkan kesuksesan anda, dan khawatir suatu hari semua orang mengetahuinya, itu adalah sindrom penipu. 

Sindrom penipu kerap muncul saat kita mendapatkan prestasi yang menonjol. Misal, masuk Universitas ternama, mendapatkan juara lomba bergengsi, mendapat nilai tertinggi,  dapat pujian atau pengakuan. 

Hingga saat ini penelitian tidak bisa membuktikan secara pasti akibat dari sindrom ini. Sebagian ahli menyimpulkan bahwa sifat perfectionism (mencari kesempurnaan) seseorang atau masa kecil dimana mereka tumbuh kembang dengan keadaan sekitar yang membuat ia merasa tidak cukup baik, media sosial juga bisa memicu sindrom penipu. Gambar di media sosial menunjukan kemewahan, kesenangan, kehidupan yang seolah-olah sempurna, keluarga harmonis, romantis dengan caption yang selalu manis. Tanpa kita sadari kita mulai membandingkan diri kita dengan orang lain yang terlihat sempurna. 

Sindrom penipu sebenarnya bisa membuat kita tidak sombong, terus berusaha, bekerja keras demi memberikan yang terbaik. Namun, apabila kadarnya berlebih membuat kita jadi iri, dan takut gagal.

Cara mengatasi sindrom penipu

1. Tidak ada manusia yang hidupnya sempurna

Saat diri kita sedih, cemas atau bahkan merasa bodoh, kita tidak sendirian. Hampir semua orang merasakan hal demikian, hanya saja mereka tidak menampakan. Bangkit, yakinlah ada Tuhan disetiap perjuangan, dan kamu punya potensi yang bisa dikembangkan dengan kerja kerasmu

2. Berhenti membandingkan diri dengan orang lain

3. Catat pencapaian-pencapaian dalam hidup

Ingat-ingat kembali berbagai pencapaian hidup yang pernah kamu raih, seperti sebuah kemenangan, orang tersenyum karena bantuanmu dan lain sebagainya. Sebenarnya setiap orang berhak sukses, karena kerja keras mereka bukan karena kebetulan.

4.Berbagi ilmu

Untuk memastikan apa saja kemampuan kamu dan seberapa baik dalam melakukan kemampuan itu. Cobalah berbagi ilmu, baik kepada junior maupun teman seangkatan. Dengan itu kamu akan menyadari seberapa besar kemampuan yang dimiliki pada bidang tersebut

5. Curhat dengan orang yang dipercaya

“Apa yang kamu dapatkan karena kamu berani bicara” cobalah cerita kepada orangtua, sahabat, guru, teman dekat anda. Dengan curhat, anda akan dipaksa untuk bercermin pada diri anda sendiri. 

6. Percaya pada diri sendiri

7. Belajar menerima dirinya sendiri

Mempercayai bahwa kamu mampu, melepaskan pemikiran bahwa kalau kamu akan gagal atau ditolak. 

Kita tidak akan bisa menghilangkan perasaan ini sepenuhnya, setidaknya kita bisa mengontrol diri agar menjadi manusia yang terbuka, bisa menerima diri dengan sepenuhnya, tidak membandingkan diri secara berlebih sehingga membuat diri menjadi depresi dan percaya bahwasannya keberhasilan didapat dari sebuah perjuangan dan kerja keras bukan dari sebuah kebetulan. kamu punya bakat, kamu mampu, dan kamu pantas. 

Imposter among us membunuh orang lain, imposter sindrom membunuh kepercayaan diri

Semoga bermanfaat ^_^

sumber: Youtube Satu persen-Indonesia & Greatmind

3 komentar untuk "Imposter Syndrome Atau Sindrom Penipu (Merasa Tidak Pantas Meraih Sukses)-Bukan Imposter Among Us "

  1. Si ijo pembunuhnya

    BalasHapus
  2. Imposter Among us=menipu orang lain
    Imposter sindrom=menipu diri sendiri, padahal keberhasilan itu sebuah hadiah dari Tuhan atas segala perjuangan

    BalasHapus
  3. Buang sampah di among us, buang pemikiran negatif dalam kehidupan nyata

    BalasHapus